Arsip | Kisah Renungan RSS for this section

Hijrahnya Seorang Preman Terminal

Terminal (Ilustrasi)

Oleh: Adit Purana

dakwatuna.com – Angkot yang biasa, dan sore yang seperti biasa. Tidak ada yang istimewa, tidak ada yang lain dari biasanya. Begitulah suasana di sore hari setelah dari kampus. Saya yang hendak ke Cijerah pun memilih sebuah mobil colt, angkot berwarna krem-hijau yang ke arah Ciroyom. Angkot Ciroyom-Lembang. Setelah beberapa saat ngetem di pertigaan Setiabudhi-Gegerkalong Girang, angkot pun mulai melaju, pelan. Maklum lah jalannya pelan, belum penuh terisi. Jadi sopir pun hendak cari penumpang.

Keadaan mulai terasa lain saat angkot yang saya tumpangi berpapasan dengan sebuah angkot dari trayek yang sama, angkot Ciroyom-Lembang yang sama-sama menuju ke arah Ciroyom. Salah satu kebiasaan para supir angkot trayek ini adalah menyapa sesama supir angkot Ciroyom-Lembang yang kebetulan berpapasan. Begitu pun yang dilakukan oleh supir muda yang angkotnya saya tumpangi ini, dia yang seorang pemuda masih ABG pun menyapa supir sesama angkot Ciroyom-Lembang. Tak ada yang menyangka apa yang akan dialami oleh si supir muda ini. Baca Lanjutannya…

Iklan

Umpan

Ilustrasi

Seorang pemburu muda tampak setengah berlari menuju pepohonan rindang. Wajahnya menunjukkan kelelahan yang begitu serius. Nafasnya masih tersengal.

“Uh, ternyata sulit sekali memburu macan tutul,” ucapnya kepada seorang rekannya yang lebih senior.

“Dengan cara apa kamu memburu macan tutul?” ucap si pemburu senior sambil memperbaiki posisi duduknya di bawah rindangnya pepohonan di sebuah tepian hutan.

“Aku terus melacak jejaknya. Sudah kusiapkan senjata berjenis jarak jauh yang akurat. Kalau saja macan itu sudah kutemukan…,” jelasnya kemudian.

“Saudaraku, lihatlah di balik pohon besar itu!” ucap si pemburu senior sambil menunjuk sebuah kerangkeng besi. Baca Lanjutannya…

Kutitip Dia Yaa Alloh

Suara adzan Isya’ yang terdengar pelan dari salon komputer sang Ayah membuat Rafi, anak yang masih berusia dua tahun itu mengingatkan Ayahnya. “Ayah, waktunya sholat ya…?” dengan polosnya Ia bertanya pada sang Ayah yang sedang sibuk mengerjakan tugas kuliah di depan komputer. “Iya sayang, Ayah mau berwudlu dulu ya…” jawab sang Ayah dengan tersenyum. “Ayah mau ke mana?” Tanya sang Anak lagi. “Ayah mau sholat ke masjid” jawab sang Ayah. “Rafi ikut” jawab sang Anak dengan mengiba. “Sayang, di luar sangat dingin, mas Rafi di rumah saja ya sama Bunda,” jawab sang Ayah. “Rafi ikut Ayah…” jawab sang Anak dengan mata yang berkaca-kaca… Baca Lanjutannya…

Bila Giliran itu Tiba

oleh Umi Shandi

payung

Riiing, riiing suara telepon dirumah kami berbunyi nyaring menjelang tengah malam. Telepon dari sahabat kami yang langsung teridentifikasi begitu bel berdering. Ada apa gerangan ya, batinku dalam hati karena aku yakin biasanya pada jam-jam seperti ini mereka sudah berangkat tidur. Saya hafal kebiasaan mereka yang suka tidur lebih cepat dan gemar menghidupkan sepertiga malamnya, serta bangun pagi.

Kuangkat telepon dan kuucapkan salam. Saya menerima salam balasan yang disampaikan dengan suara yang bergetar hebat seperti menahan sesuatu beban yang sangat berat. Tiba-tiba saya merasakan bahwa ada yang tidak beres dengan sahabat saya; dan saya memilih menunggu sampai ia berhasil menguasai perasaan dan emosinya. Setelah terdiam beberapa saat lamanya, sahabat saya mulai berbicara meskipun terbata-bata.
Baca Lanjutannya…

Memberi 1 Dirham, Mendapat 120.000 Dirham Dari Allah

givingDari Al-Fudhail bin Iyadh, ia berkata, seorang laki-laki menceritakan kepadaku: “Ada laki-laki yang keluar membawa benang tenun, lalu ia menjualnya satu dirham untuk membeli tepung. Ketika pulang, ia melewati dua orang laki-laki yang masing-masing menjambak kepal kawannya. Ia lalu bertanya, ‘Ada apa?’ Orang pun memberitahunya bahwa keduanya bertengkar karena uang satu dirham. Maka, ia berikan uang satu dirham kepada keduanya, dan iapun tak memiliki sesuatu.

Ia lalu mendatangi isterinya seraya mengabarkan apa yang telah terjadi. Sang isteri lalu mengumpulkan perkakas rumah tangga. Laki-laki itu pun berangkat kembali untuk menggadaikannya, tetapi barang-barang itu tidak laku. Tiba-tiba kemudian ia berpapasan dengan laki-laki yang membawa ikan yang menebar bau busuk. Orang itu lalu berkata kepadanya, ‘Engkau membawa sesuatu yang tidak laku, demikian pula dengan yang saya bawa. Apakah Anda mau menukarnya dengan barang (daganganku)?’ Ia pun mengiakan. Ikan itu pun dibawanya pulang. Kepada isterinya ia berkata, ‘Dindaku, segeralah urus (masak) ikan ini, Baca Lanjutannya…

Aspirasi

littleturtleDua anak kura-kura saling bertatapan ketika orang yang memeliharanya menempatkan mereka di akuarium kering. Padahal, dua kura-kura kecil itu tergolong kura-kura air. Kontan saja, mereka blingsatan.

“Dasar, manusia kurang pengetahuan!” suara kura-kura yang agak lebih besar. “Iya, kenapa manusia ini tidak belajar dulu tentang kita?” sahut yang kecil menimpali.

Tak lama, keduanya pun merasakan siraman air. Byurr! Dua anak kura-kura menyambut gembira. Tapi, kegembiraan itu tak lama. Karena air yang tersiram begitu banyak, Baca Lanjutannya…

Kesenjangan

elang1Seekor anak elang begitu serius menatapi suasana kehidupan dari atas bukit. Pandangannya yang tajam terus mengikuti hampir setiap gerakan yang muncul. Ular yang merayap dari bebatuan satu ke bebatuan lain. Kelinci yang melompat dari rerumputan satu ke rerumputan lain. Ikan-ikan yang melenggak-lenggok mengusik kejernihan bayangan permukaan air. Dan lain-lain.

Satu hal yang membingungkan si anak elang: semua gerakan itu tampak begitu lamban. Bagaikan kombinasi beberapa titik yang bergerak lambat. “Kenapa mereka begitu lambat?” ujarnya dalam seribu satu keingintahuan.

Ia pun mengangguk-angguk ketika beberapa elang dewasa memangsa hewan-hewan di bawah bukit itu dengan mudah. “Tentu saja kena. Mereka begitu lamban!” gerutunya penuh yakin.

“Kamu tidak turun memangsa, Nak?” Baca Lanjutannya…