Umpan


Ilustrasi

Seorang pemburu muda tampak setengah berlari menuju pepohonan rindang. Wajahnya menunjukkan kelelahan yang begitu serius. Nafasnya masih tersengal.

“Uh, ternyata sulit sekali memburu macan tutul,” ucapnya kepada seorang rekannya yang lebih senior.

“Dengan cara apa kamu memburu macan tutul?” ucap si pemburu senior sambil memperbaiki posisi duduknya di bawah rindangnya pepohonan di sebuah tepian hutan.

“Aku terus melacak jejaknya. Sudah kusiapkan senjata berjenis jarak jauh yang akurat. Kalau saja macan itu sudah kutemukan…,” jelasnya kemudian.

“Saudaraku, lihatlah di balik pohon besar itu!” ucap si pemburu senior sambil menunjuk sebuah kerangkeng besi.

Dan betapa terkejutnya si pemburu muda ketika mendapati di kerangkeng besi itu terdapat dua ekor macam tutul. Ia pun terperangah. Bagaimana mungkin si pemburu tua bisa mendapatkan dua ekor tanpa berpayah-payah sepertinya?

“Pak tua, dengan senjata apa kau bisa melumpuhkan dua macan tutul sekaligus? Padahal, aku tidak melihat dirimu berpayah-payah mengejarnya?” suara si pemburu muda dari kejauhan. Matanya masih lekat menatap dua macan tutul itu.

Pemburu tua pun menghampiri pemburu muda yang masih terperangah dengan apa yang ada di hadapannya.

“Saudaraku,” ucapnya sambil tangan kanannya menepuk bahu si pemburu muda. “Tidak semua berburu itu berarti mengejar,” tambahnya kemudian.

“Maksudmu?” kilah pemburu muda sambil sedikit menoleh. “Tampakkanlah apa yang paling mereka suka, merekalah yang akan mengejarmu. Nafsulah yang membuat mereka menjadi bodoh, dan tidak lagi bisa membedakan mana umpan dan mana temuan,” ungkap si pemburu tua yang disambut anggukan oleh si pemburu muda.
**

Kehidupan saat ini sudah seperti arena perburuan yang saling berkejaran satu sama lain untuk memperebutkan sejumlah kepentingan individu dan kelompok. Saat itulah, masing-masing kita menjadi sangat berwaspada dengan kelompok atau pihak yang menampakkan perburuan terhadap kita.

Tapi berhati-hatilah dengan permainan jebakan dari pihak lawan dengan umpan-umpan yang menggelorakan syahwat duniawiyah. Karena saat itulah, nalar dan kewaspadaan kita berada pada posisi terendah, sehingga tak lagi bisa membedakan mana umpan dan mana temuan. (muhammadnuh@eramuslim.com)

http://www.eramuslim.com/hikmah/tafakur/umpan.htm

Silahkan Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s