Arsip | Kisah Nabi dan Rasul RSS for this section

Arab Pra Islam (Serial Sejarah Hidup Nabi Muhammad : 1)

Ilustrasi

Sumber Peradaban Pertama
PENYELIDIKAN mengenai sejarah peradaban manusia dan dari mana pula asal-usulnya, sebenarnya masih ada hubungannya dengan zaman kita sekarang ini. Penyelidikan demikian sudah lama menetapkan, bahwa sumber peradaban itu sejak lebih dari enam ribu tahun yang lalu adalah Mesir. Zaman sebelum itu dimasukkan orang kedalam kategori pra-sejarah. Oleh karena itu sukar sekali akan sampai kepada suatu penemuan yang ilmiah. Sarjana-sarjana ahli purbakala (arkelogi) kini kembali mengadakan penggalian-penggalian di Irak dan Suria dengan maksud mempelajari soal-soal peradaban Asiria dan Funisia serta menentukan zaman permulaan daripada kedua macam peradaban itu: adakah ia mendahului peradaban Mesir masa Firaun dan sekaligus mempengaruhinya, ataukah ia menyusul masa itu dan terpengaruh karenanya?

Apapun juga yang telah diperoleh sarjana-sarjana arkelogi dalam bidang sejarah itu, samasekali tidak akan mengubah sesuatu dari kenyataan yang sebenarnya, yang dalam penggalian benda-benda kuno Tiongkok dan Timur Jauh belum memperlihatkan hasil yang berlawanan. Kenyataan ini ialah bahwa sumber peradaban pertama – baik di Mesir, Funisia atau Asiria – ada hubungannya dengan Laut Tengah; dan bahwa Mesir adalah pusat yang paling menonjol membawa peradaban pertama itu ke Yunani atau Rumawi, dan bahwa peradaban dunia sekarang, masa hidup kita sekarang ini, masih erat sekali hubungannya dengan peradaban pertama itu. Baca Lanjutannya…

Kehidupan Rasulullah Sebelum Diutus

muhammadMuhammad Sholallahu ‘Alaihi wa Salam dilahirkan di Makkah Al Mukarramah pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun 571 M. Tahun tersebut adalah tahun ketika Abrahah Al Habsyi berusaha menghancurkan Ka’bah. Maka Allah menghancurkan Abrahah (dan tentaranya). Hal tersebut disebutkan di dalam surat Al Fiil.

Ayah beliau adalah Abdullah bin Abdil Muthallib bin Hasyim bin Abdi Manaf. Ia meninggal sebelum Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Salam dilahirkan. Oleh karena itu beliau dilahirkan dalam keadaan yatim.

Ibu beliau adalah Aminah bintu Wahb bin Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah. Setelah ibunya melahirkan, ia mengirim beliau kepada kakeknya. Ibunya memberikan kabar gembira kepada sang kakek dengan kelahiran cucunya. Baca Lanjutannya…

Nabi Hud Diutus Kepada Kaum ‘Ad

d-31Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Nabi Hud ‘Alaihissalam kepada Kaum ‘Ad. Kaum ‘Ad merupakan kaum yang pertama menyekutukan Allah dalam hal rububiyyah, tetapi tidaklah mengingkarinya secara total. Penyekutuan mereka, terjadi karena mereka terperdaya oleh kekuatan dan keagungan yang mereka miliki. Mereka juga menyembah berhala dan meyakini bahwa berhala memiliki kemampuan memberikan manfaat dan madharat kepada pemujanya. Kaum ‘Ad kaum yang pertama kali menyembah berhala setelah banjir bandang pada masa Nabi Nuh ‘Alaihissalam sebagaimana dikatakan oleh Ibnu katsir dalam Qahashul Anbiya’.

Allah Ta’ala mengutus Nabi Hud ‘Alaihissalam kepada kaum ‘Ad yang pertama dalam rangka menyeru mereka agar beribadah semata-mata kepada Allah dan meninggalkan penyembahan kepada selain Allah. Baca Lanjutannya…

Nabi Melarang Bersikap Kasar

taubat2Basyir bin Muhajir menuturkan bahwa pada suatu saat, ketika dia duduk di samping Nabi, tiba-tiba seorang wanita dari kabilah Ghamid datang menemui beliau. Setelah dipersilakan duduk, wanita itu berkata, “Ya Rasulullah, aku telah berzina. Jatuhilah aku hukuman, agar aku dapat mensucikan diriku yang kotor ini!” Nabi dan para sahabat sangat terkejut.

“Pulalanglah ke rumahmu!” Baca Lanjutannya…

Nasihat Musa dan Isa

Pada suatu hari, para Hawariyyun mengunjungi Nabi Isa a.s. Setelah beramah tamah, salah seorang dari mereka mewakili teman-temannya, berkata, “Wahai mursyid, berilah kami nasihat!” pintanya.

            “Musa pernah melarang para pengikutnya bersumpah palsu, sedangkan aku melarang kalian bersumpah meskipun benar,” jawab Nabi Isa a.s. “Wahai Isa, berilah kami nasihat lagi!” pinta mereka sesaat kemudian.

            “Nabi Musa pernah melarang para pengikutnya melakukan zina, sedangkan aku melarang kalian memikirkannya,” jawab beliau. Sejenak Nabi Isa diam sambil memperhatikan para pengikutnya. Lalu, beliau menambahkan :

            “Memikirkan zina akan mencemari hati yang sebelumnya jernih. Hal itu sama dengan orang menyalakan api dalam sebuah kamar berdinding bersih. Api yang menyala akan mengotori dinding yang bersih itu, meskipun tidak merusaknya. Perbuatan zina meruntuhkan mahligai rumah tangga, sedangkan berniat memikirkan (zina) mengotori mahligai rumah tangga.”

            Mendapatkan nasihat-nasihat istimewa itu, Hawariyyun pun puas

Antara Palestina dan India


Dengan menyamar sebagai manusia, malaikat maut si pencabut nyawa Nabi Sulaiman as yang sedang duduk-duduk bersama temannya. Sang malaikat menatap salah seorang di antara mereka dengan pandangan yang begitu tajam.

Hal itu menarik perhatian sebagian besar teman-teman Sulaiman. Setelah lelaki itu keluar majelis, mereka bertanya, “Siapakah orang tadi ya Nabiyullah? Kulihat dia terus-menerus memandangiku?” kata seorang teman Sulaiman.

“Dia itu malaikat Izrail pencabut nyawa,” katanya. Mendengar jawaban itu, lelaki yang bertanya itu hatinya menjadi kecut. Tubuhnya gemetar, keluar keringat dingin dari tubuhnya. Sia berpikir, tentu tidak lama lagi nyawanya akan dicabut dan meninggal.

Melihat perubahan mimik semacam itu, Nabi Sulaiman lalu menghibur temannya yang akan dijemput maut itu. “Ajal adalah kepastian bagi setiap makhluk. Hadapilah dia dengan tenang. Nah, sebelum kau meninggalkan dunia ini, adakah keinginan yang paling kau dapatkan selama ini?” tanya Nabi Sulaiman. “Ada,” jawabnya.

“Aku ingin dibawa terbang oleh angin dan dijatuhkan di negeri India agar aku bisa menghindari kedatangan malaikat mauts itu,” katanya.

Dia berpikir dengan melarikan diri jauh ke India, Izrail tak mampu mendatanginya dan mencabut nyawanya. “Baiklah, sekarang juga kau bisa menikmatinya,” kata Sulaiman.

Untuk mengabulkan permintaan temannya itu, Nabi Sulaiman segera memerintahkan pasukan angin untuk menerbangkan temannya itu jauh ke negeri India. Di India ternyata Izrail telah menunggu. Betapa terkejutnya lelaki itu melihatnya. Namun dia tak bisa berbuat apa-apa karena malaikat segera mencabut nyawanya sesuai yang ditugaskan Allah SWT. Matilah lelaki itu di India.

Setelah itu, malaikat segera mendatangi Nabi Sulaiman kembali ke tanah Palestina. “Kau datang lagi kawan? Dari mana kau?” tanya Sulaiman. “Dari negeri India,” jawab malaikat. “Dari India? Oh ya, mengapa engkau tadi memandangi teman dudukku?”

“Waktu itu aku sedikit kebingungan,” jawab malaikat. “Bingung, memangnya kenapa?” tanya Sulaiman.

“Aku diperintahkan Allah untuk mencabut nyawa orang itu di India, tetapi saat itu dia berada di Palestina di sampingmu. Padahal jarak antara Palestina dan India itu cukup jauh. Dan tidak mungkin di tempuh dalam waktu sekejap. Karena itu aku menjadi bingung dan meninggalkan majelis itu,” katanya.

“Lalu, apa yang kau lakukan teman?” tanya Sulaiman lagi. “Aku terus saja pergi ke India, karena tugas itu harus kulaksanakan di sana. Masya Allah, tiba-tiba dalam sekejap, lelaki itu sudah ada di sana. Maka kulaksanakan tugas itu dengan mencabut nyawanya di India. Alhamdulillah, aku telah bisa menyelesaikan tugasku dengan baik,” katanya.

Mendengar ucapan malaikat itu, Nabi Sulaiman hanya tersenyum. Memang kalu Allah sudah menkdirkan sesuatu kepada manusia itu, pasti terjadi. Soal ajal adalah sebuah kepastian. Manusia tak mampu sedikitpun menundanya atau mengajukan sedikitpun seperti teman Nabi Sulaiman itu. Wallahu a’lam. (Dari buku 50 kisah nyata)

Doa Rasulullah di Medan Badar

Mendengar saran sahabat Hubab bin Mundhir bin Jamuh begitu taktis dalam strategi Perang Badar, Rasulullah kontan menyetujuinya. Kepada pasukannya beliau berkata, “Saya ini juga manusia biasa seperti kalian. Segala sesuatu perlu dimusyawarahkan bagaimana sebaiknya, dan jangan sampai kita ngotot mempertahankan pendapat sendiri. Sebagai pemimpin, saya membutuhkan saran, usul dan kritik dari kalian,” kata beliau.

Selesai kolam air dibuat dan sumur-sumur lainnya ditimbun, sahabat lain Sa’ad bin Mu’adh mengusulkan, “Rasulullah, kami akan membuat tempat berkemah dari pelepah kurma untuk anda. Kami siapkan juga kuda tunggangan untuk anda. Setelah itu kita menyerbu musuh. Biarlah kami-kami yang menghadapi lawan. Jika Tuhan memberi kemenagan kepada kita, itulah yang kita harapkan. Namun jika keadaan berbalik, anda tak akan jatuh ke tangan musuh. Anda bisa lari dengan kuda itu menyusul pasukan di belakang. Percayalah, masih banyak pasukan di belakang yang setia kepada anda.

Mendengar saran itu, terharulah Rasulullah atas semangat dan kesetiaan mereka. Dan persis 17 Ramadhan, pertempuran sengit itu tak terelakkan. Dua kekuatan yang secara material sama sekali tak seimbang saling berhadapan. Seribu pasukan Quraisy yang bersenjatakan pimpinan Abu Jahal dan Abu Sufyan melawan 300 pasukan muslimin dengan perlengkapan 70 unta.

Dengan gigihnya, pasukan Islam termasuk Hamzah bin Abdul Muthallib, Ali bin Abi Thalib, Ubaidillah bin al Harits menyerang dengan pedang di tangan membabat lawan-lawan. Muahammad sendiri yang tinggal di danau maju ke depan. Tetapi karena kekuatan lawan tak sebanding ia kembali ke pondoknya ditemani Abu Bakar.

Saat itulah Rasulullah bermunajat kepada Allah, “Allaumma ya Allah, ini Quraisy datang dengan segala kecongkakannya, berusaha hendak mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, pertolongan-Mu juga yang Kau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika pasukan ini sekarang binasa, tidak ada lagi ibadat lagi kepada-Mu.”

Begitu khusyuknya Rasulullah berdoa, sampai mantelnya jatuh, yang kemudian dikenakan kembali oleh Abu Bakar. “Rasulullah, dengan doamu, Allah akan mengabulkan apa yang telah dijanjikan kepadamu,” kata Abu Bakar.

Setelah itu, Rasulullah keluar memotivasi pasukannya, “Demi Dia yang memegang hidup Muhammad. Setiap orang yang sekarang bertempur dengan tabah bertahan mati-matian, terus maju dan pantang mundur lalu tewas, adkhalahullahul jannah, Allah akan menempatkan mereka di surga.”

Mendengar seruan itu, pihak muslimin makin menyerbu ke depan. Meski kecil jumlahnya, jiwa mereka dipenuhi semangat jihad. Semangat itu, diperkuat dengan turunnya wahyu surat Al-Anfal ayat 17. “Sebenarnya bukanlah kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah yang telah membunuh mereka. Juga ketika kau melempar, sebenarnya bukan engkau yang melempar, melainkan Tuhan juga.”

Maka berakhirlah Perang Badar dengan kemenagan di pihak Islam meski jumlah mereka secara material sangat sedikit. Walau kecil, mereka mampu mengalahkan lawan yang jumlahnya tiga kali lipat, hanya karena pertolongan Allah semata. Dan itu juga berkat taktik dan strategi perang yang jitu atas saran para sahabat Nabi.

Agaknya, ada baiknya sebagai pemimpin perlu bertelinga lebar mau mendengarkan saran dan kritik umatnya.**