Arsip | Kisah Sahabat Nabi RSS for this section

SYAHID SELEPAS MENGUCAPKAN SYAHADAH

05-kaare-bluitgen-mohammed-book-S-1Suatu ketika tatkala Rasulullah s.a.w. sedang bersiap di medan perang Uhud, tiba-tiba terjadi hal yang tidak terduga. Seorang lelaki yang bernama Amar bin Thabit telah datang menemui Baginda s.a.w.. Dia rupanya ingin masuk Islam dan akan ikut perang bersama Rasulullah s.a.w. Amar ini berasal dari Bani Asyahali. Sekalian kaumnya ketika itu sudah Islam setelah tokoh yang terkenal Saad bin Muaz memeluk Islam. Tetapi Amar ini enggan mengikut kaumnya yang ramai itu. Keangkuhan jahiliyyah menonjol dalam jiwanya, walaupun dia orang baik dalam pergaulan. Waktu kaumnya menyerunya kepada Islam, ia menjawab, “Kalau aku tahu kebenaran yang aku kemukakan itu sudah pasti aku tidak akan mengikutnya.” Demikian angkuhnya Amar.
Baca Lanjutannya…

Iklan

Asal Usul Kumandang Adzan

azan

Seiring dengan berlalunya waktu, para pemeluk agama Islam yang semula sedikit, bukannya semakin surut jumlahnya. Betapa hebatnya perjuangan yang harus dihadapi untuk menegakkan syiar agama ini tidak membuatnya musnah. Kebenaran memang tidak dapat dimusnahkan. Semakin hari semakin bertambah banyak saja orang-orang yang menjadi penganutnya.
Demikian pula dengan penduduk dikota Madinah, yang merupakan salah satu pusat penyebaran agama Islam pada masa-masa awalnya. Sudah sebagian tersebar dari penduduk yang ada dikota itu sudah menerima Islam sebagai agamanya. Ketika orang-orang Islam masih sedikit jumlahnya, tidaklah sulit bagi mereka untuk bisa berkumpul bersama-sama untuk menunaikan sholat berjama`ah. Baca Lanjutannya…

Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq -Rodhiallahu ‘anhu-

abu-bakarSetelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, kaum Muslimin mengadakan pertemuan di Saqifah bani Sa’idah. Mereka membicarakan siapakah sepatutnya yang menggantikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memimpin kaum Muslimin dan mengurusi persoalan umat. Setelah diskusi, pembahasan, dan pengajuan sejumlah usulan, tercapailah kesepakatan bulat khalifah Rasulullah pertama setelah kematian beliau adalah orang yang pernah menjadi khalifah (pengganti) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengimami kaum Muslimin pada saat beliau sakit. Itulah ash-Shiddiq sahabat beliau yang terbesar dan pendamping beliau di dalam gua, Abu Bakar Rodhiyallahu ‘anhu.

Ali Rodhiyallahu ‘anhu tidak pernah menentang kesepakatan tersebut. Keterlambatan baiat Ali kepada Abu Bakar1 karena urusan yang berkaitan dengan perbedaan pendapat yang terjadi antara Abu Bakar Baca Lanjutannya…

Umar dan Ibu Pemasak Batu

umar-bin-khattabSuatu masa dalam kepemimpinan Umar, terjadilah Tahun Abu. Masyarakat Arab, mengalami masa paceklik yang berat. Hujan tidak lagi turun. Pepohonan mengering, tidak terhitung hewan yang mati mengenaskan. Tanah tempat berpijak hampir menghitam seperti abu.

Putus asa mendera di mana-mana. Saat itu Umar sang pemimpin menampilkan kepribadian yang sebenar-benar pemimpin. Keadaan rakyat diperhatikannya saksama. Tanggung jawabnya dijalankan sepenuh hati. Setiap hari ia menginstruksikan aparatnya menyembelih onta-onta potong dan menyebarkan pengumuman kepada seluruh rakyat. Berbondong-bondong rakyat datang untuk makan. Semakin pedih hatinya. Saat itu, kecemasan menjadi kian tebal. Baca Lanjutannya…

Bintang Jasa untuk Prajurit Pemberani

muhammad_at_badr2Abdullah bin Anis adalah termasuk salah seorang sahabat dekat Nabi. Ia tergolong prajurit yang pemberani dan tangkas. Pada suatu ketika Nabi mendengar bahwa Khalid bi Sufyan Al-Hadzli sedang menyiapkan senjata dan bala tentara di salah satu bagian Jazirah Arab untuk menyerbu kaum muslimin.

Beliau memanggil Abdullah bin Anis, lalu menceritakan rencana Khalid bin Sufyan. “Hai Abdullah, pergilah ke tempat Khalid dan bunuhlah dia!” perintah Nabi.

“Wahai Nabi sebutkanlah ciri-ciri Khalid, agar aku dapat mengenalnya kemudian membunuhnya!” pinta Abdullah.

“Orang dapat menggambarkan wajah dan sosok setan di benaknya begitu melihat wajahnya. Kebanyakan orang akan gemetar ketika melihatnya,” jawab Nabi.

Abdullah segera mengambil pedangnya yang amat tajam itu, lalu bergegas menuju ‘sasaran’. Akhirnya, ia berhasil menyusup dan melihatnya bersama sejumlah wanita sedang mencari tempat tinggal untuk mereka. Perawakan Khalid yang tinggi besar dan kekar serta tampangnya yang bengis, membuat bulu roma Abdullah berdiri. Abdullah agak gentar, seakan akan melihat iblis.

Ia mencari cara dan waktu yang tepat untuk memulai aksinya. Pada saat yang dianggapnya paling tepat, ia menghampiri Khalid.

“Siapakah engkau?” tanya Khalid.

“Aku orang arab,” jawab Abdullah.

“Aku dengar kau sedang mengumpulkan bala tentara untuk memerangi kaum muslimin. Aku datang untuk membantumu,” lanjut Abdullah.

“Benar. Aku sedang merencanakannya,” tandas Khalid. Tampaknya ia mempercayai Abdullah.

Tiba-tiba Abdullah menghunus Baca Lanjutannya…

Berkah Hujan Bagi Pasukan ‘Usra

camelsSemula pasukan Rasulullah untuk menundukkan pasukan Romawi di perbatasan Jazirah Arab bagian utara ini mengalami banyak kendala dan kesulitan. Tetapi, akhirnya Nabi bisa memobilisasi sebanyak 30.000 orang sehingga pasukan itu dinamai pasukan ‘Usra (kesulitan). Pasukan itu berpangkalan di luar kota Madinah.

Saat Rasulullah kembali ke Madinah untuk menyelesaikan beberapa masalah, dengan para sahabat, istri, dan keluarga, Abu Bakarlah yang bertindak sebagai imam shalat. Sementara urusan dalam kota Madinah, Rasulullah menyerahkan kepada Muhammad bin Maslamah, sedang Ali bin Abi Thalib ditugasi mengurusi keluarga beliau. Setelah sesuatunya dianggap beres, beliau segera kembali ke induk pasukan di luar kota Madinah.

Ketika itu, Abdullah bin Ubay juga sudah siap dengan sebuah pasukan yang terdiri dari golongannya sendiri yang akan berangkat ke daerah perbatasan. Tetapi menurut pertimbangan Rasulullah, Abdullah dan pasukannya diminta tetap tinggal di Madinah. Rupanya Nabi Baca Lanjutannya…

Suatu Kasus Pembunuhan

orangPada masa pemerintahan khalifah Ali bin Abi Thalib terjadi suatu peristiwa pembunuhan. Di sepetak tanah tak bertuan, sesosok mayat ditemukan tergeletak berlumuran darah di samping seorang lelaki yang sedang berdiri sambil menggenggam sebilah pisau penuh darah. Lelaki yang sedang menggenggam pisau penuh darah itu sehari-hari menjadi tukang jagal di pasar.

Bukti-bukti menunjukkan bahwa dialah pelakunya. Karena itu, tentu saja dia segera ditangkap, diseret, dan diajukan ke hadapan Khalifah Ali.

“Apa pendapatmu tentang lelaki yang terbunuh itu?” tanya khalifah Ali kepada tersangka. “Saya telah membunuhnya,” jawabnya dengan tenang.

Berdasarkan fakta yang ada dan pengakuan tersangka, Imam Ali menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Ketika para petugas sedang menyeret tersangka menuju tempat eksekusi, tiba-tiba seorang lelaki lari tergopoh-gopoh mengejar mereka seraya berteriak, Baca Lanjutannya…