Suatu Kasus Pembunuhan


orangPada masa pemerintahan khalifah Ali bin Abi Thalib terjadi suatu peristiwa pembunuhan. Di sepetak tanah tak bertuan, sesosok mayat ditemukan tergeletak berlumuran darah di samping seorang lelaki yang sedang berdiri sambil menggenggam sebilah pisau penuh darah. Lelaki yang sedang menggenggam pisau penuh darah itu sehari-hari menjadi tukang jagal di pasar.

Bukti-bukti menunjukkan bahwa dialah pelakunya. Karena itu, tentu saja dia segera ditangkap, diseret, dan diajukan ke hadapan Khalifah Ali.

“Apa pendapatmu tentang lelaki yang terbunuh itu?” tanya khalifah Ali kepada tersangka. “Saya telah membunuhnya,” jawabnya dengan tenang.

Berdasarkan fakta yang ada dan pengakuan tersangka, Imam Ali menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Ketika para petugas sedang menyeret tersangka menuju tempat eksekusi, tiba-tiba seorang lelaki lari tergopoh-gopoh mengejar mereka seraya berteriak, “Hentikan! Hadapkan kembali penjagal sapi itu kepada Khalifah Ali! Akulah pembunuhnya”.

Para petugas menghadapakan kedua orang itu kepada Khalifah. “Penjagal itu bukan pembunuh. Akulah pembunuhnya”, katanya mengaku. Imam menoleh ke arah penjagal. “Lalu mengapa engkau mengaku sebagai pembunuhnya?” tanya Khalifah kepada penjagal itu keheranan.

“Saya terpaksa mengaku sebagai pelaku pembunuhan itu, karena petugas menemukan saya sedang menggenggam pisau yang penuh darah di samping mayat yang tergeletak itu. Bukti-bukti keterlibatan saya sangat kuat dan sulit dibantah. Padahal, kenyataannya tidaklah demikian. Setelah menyembelih seekor domba, tiba-tiba keinginan saya untuk buang air kecil tidak tertahan lagi. Saya segera ke tempat tak bertuan itu sambil menggenggam pisau penuh bercak darah. Saya sangat terperanjat ketika melihat jasad lelaki tak dikenal terkapar di samping saya. Pada saat itulah para petugas melihat dan segera meringkus saya”, jawabnya polos.

“Ajukan kedua orang ini ke hadapan putraku, Hasan, untuk diadili!” perintah Imam Ali sesaat kemudian.

Setelah mendengar keterangan para petugas, Hasan berkata, “Sampaikan kepada Amirul Mukminin, meskipun lelaki kedua pembunuhnya, ia telah menyelamatka jiwa penjagal itu. Allah berfirman, “Barangsiapa menghidupkan (menyelamatkan hidup) sebuah jiwa, maka seakan-akan telah menghidupkan (menyelamatkan hidup) semua orang”.

Setelah menerima pesan dari putranya, Ali membebaskan kedua orang tersebut. Dan sebagai diyat (ganti rugi), Imam memberikan harta dari Baitul Mal kepada keluarga korban.**

Silahkan Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s