Berkah Hujan Bagi Pasukan ‘Usra


camelsSemula pasukan Rasulullah untuk menundukkan pasukan Romawi di perbatasan Jazirah Arab bagian utara ini mengalami banyak kendala dan kesulitan. Tetapi, akhirnya Nabi bisa memobilisasi sebanyak 30.000 orang sehingga pasukan itu dinamai pasukan ‘Usra (kesulitan). Pasukan itu berpangkalan di luar kota Madinah.

Saat Rasulullah kembali ke Madinah untuk menyelesaikan beberapa masalah, dengan para sahabat, istri, dan keluarga, Abu Bakarlah yang bertindak sebagai imam shalat. Sementara urusan dalam kota Madinah, Rasulullah menyerahkan kepada Muhammad bin Maslamah, sedang Ali bin Abi Thalib ditugasi mengurusi keluarga beliau. Setelah sesuatunya dianggap beres, beliau segera kembali ke induk pasukan di luar kota Madinah.

Ketika itu, Abdullah bin Ubay juga sudah siap dengan sebuah pasukan yang terdiri dari golongannya sendiri yang akan berangkat ke daerah perbatasan. Tetapi menurut pertimbangan Rasulullah, Abdullah dan pasukannya diminta tetap tinggal di Madinah. Rupanya Nabi cukup bersikap hati-hati dan waspada. Abdullah bin Ubay yang Yahudi ini selain imannya tidak kuat juga sulit dipercaya. Hatinya mendua. Alia munafik.

Dengan komando “Allahu Akbar”, pasukan itu kini bergerak meninggalkan Madinah di dahului 10.000 pasukan berkuda. Debu dan pasir mengepul ke udara diselingi ringikan kuda berlari kencang di atas pasir. Wanita-wanita Madinah naik ke atas loteng rumah menyaksikan arak-arakan pasukan tentara yang dahsyat itu akan menerobos padang sahara menuju daerah perbatasan di Syam.

Demi jihad fi sabilillah, panas terik dan jauhnya perjalanan tidak mereka rasakan lagi karena di depan matanya adalah menunggu kemuliaan atau mati syahid dan masuk surga. Iykariiman au mutsyahiidan, adalah semboyan pasukan muslimin yang melaju ke medan perang. Rasa haus dan dahaga tidak dirasakannya lagi, begitu pula rasa penat di badan akibat perjalanan jauh mengarungi gurun pasir. Mereka bismillah meninggalkan mereka yang lebih suka di tempat yang rindang dan ongkang-ongkang di rumah yang teduh.

Arak-arakan besar yang dielu-elukan kaum wanitanya dengan segala penghormatan itu, membuat orang yang tadinya enggan menerima ajakan Rasulullah menjadi tergugah semangat jihadnya. Di antara orang itu adalah Abu Khaitsamah. Setelah melihat pasukan itu, ia kembali ke rumah menemui dua istrinya. Ketika itu, seorang istrinya sedang menyirami tempat Abu Khaitsamah berteduh, sedang seorang lagi sedang mendinginkan air minum dan menyediakan makanan untuk dia.

Melihat apa yang dilakukan dua istrinya itu dia berkata, “Rasulullah kini berada dalam terik matahari, angin kencang dan udara yang panas, sedang aku berada di tempat yang teduh, sejuk, makanan cukup, dan wanita yang cantik di rumah.” Mendengar itu, kedua istrinya hanya terdiam. Dalam hati, mereka membenarkan omongan suaminya. Tak lama kemidian Abu Khaitsmah berkata lagi, “Siapkan perbekalan secukupnya.”

“Mau ke ma engkau?” tanya kedua istrinya. “Aku akan menyusul Rasulullah,” kata Abu Khaitsamah. “Ke medan perang?”

“Ya, kapan lagi aku punya kesempatan emas seperti ini?” katanya.

Kemudian Abu Khaitsamah menyusul naik kuda dengan perbekalan secukupnya. Dan kedua istrinya melepaskan suaminya dengan penuh kebanggaan.

Apa yang dilakukan Abu Khaitsamah ini diikuti oleh beberapa orang lelaki muslim Madinah. Mereka sadar bahwa mengelak ikut perang dan merasa takut dengan tinggal di rumah itu, suatu perbuatan yang hina dan tercela. Sampai di situ, kesadaran iman kaum muslimin saat itu.

Berkah Hujan

Dipimpin Rasulullah sendiri, pasukan tentara itu sudah sampai di Hijr. Di tempat itu terdapat puing-puing bekas rumah-rumah kaum Tsamud, terbukti dengan sebuah prasasti yang terukir dalam batu besar. Di tempat itulah pasukan berhenti untuk beristirahat setelah menempuh perjalanan panjang. Dan orang-orang pun mulai mengambil air dari sumur di tempat itu. Tetapi tiba-tiba Rasulullah berkata kepada para sahabatnya, “Jangan ada yang minum air sumur ini, dan jangan digunakan wudlu untuk shalat. Bila sudah terlanjur ada adonan yang kamu buat dengan air sumur itu, berikanlah kepada ternak. Jangan kalian makan,” kata beliau.

Mendengar larangan itu, para anggota pasukan menjadi bertanya-tanya. Namun, sebagai anggota mereka hanya berdisiplin mematuhi perintah dan larangan komandan. “Dan ingatlah, jangan ada yang keluar malam ini jika tidak seizin saya dan disertai teman yang lain,” kata Nabi lagi.

Apa rahasia Rasulullah mengenakan larangan itu? Tempat di dekat puing-puing kaum Tsamud itu jarang dilalui orang. Kadang kala angin badai menyerangnya membawa pasir yang dapat menimbun manusia atau binatang ternak.

Dan benar juga, malam itu ketika dua anggota pasukan ada yang keluar tanpa ada perintah dari Rasulullah, salah seorang terhempas angin sampai jauh. Seorang lagi malah tertimbun pasir. Keesokan harinya, orang melihat, pasir itu telah menimbuni sumur sehingga tidak dijumpainya sumur itu lagi.

Melihat kejadian malam itu, semua anggota pasukan menjadi ketakutan karena akan kehausan di perjalanan nanti. Lebih mencemaskan lagi, perjalanan ke Syam itu masih jauh. Sementara mereka dalam kecemasan, tiba-tiba datang angin membawa mendung mengguyur hujan, dan menurunkan air. Maka bergembiralah mereka memperoleh pengganti air sumur yang jumlanya berlimpah. Perasaan cemas dan takut menjadi hilang bersama datangnya air hujan dari langit. “Ini suatu mukjizat,” kata mereka.”

One response to “Berkah Hujan Bagi Pasukan ‘Usra”

  1. shohibz says :

    Disiplin, patuh kepada Nabi adalah hal terpenting menjalani hidup. Meski pada awalnya terlihat ganjil, tapi ajaran Nabi mengandung hikmah luar biasa.Semoga kita termasuk orang yang mengambil pelajaran.

Silahkan Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s