Hijrahnya Seorang Preman Terminal


Terminal (Ilustrasi)

Oleh: Adit Purana

dakwatuna.com – Angkot yang biasa, dan sore yang seperti biasa. Tidak ada yang istimewa, tidak ada yang lain dari biasanya. Begitulah suasana di sore hari setelah dari kampus. Saya yang hendak ke Cijerah pun memilih sebuah mobil colt, angkot berwarna krem-hijau yang ke arah Ciroyom. Angkot Ciroyom-Lembang. Setelah beberapa saat ngetem di pertigaan Setiabudhi-Gegerkalong Girang, angkot pun mulai melaju, pelan. Maklum lah jalannya pelan, belum penuh terisi. Jadi sopir pun hendak cari penumpang.

Keadaan mulai terasa lain saat angkot yang saya tumpangi berpapasan dengan sebuah angkot dari trayek yang sama, angkot Ciroyom-Lembang yang sama-sama menuju ke arah Ciroyom. Salah satu kebiasaan para supir angkot trayek ini adalah menyapa sesama supir angkot Ciroyom-Lembang yang kebetulan berpapasan. Begitu pun yang dilakukan oleh supir muda yang angkotnya saya tumpangi ini, dia yang seorang pemuda masih ABG pun menyapa supir sesama angkot Ciroyom-Lembang. Tak ada yang menyangka apa yang akan dialami oleh si supir muda ini.

Saya hanya tertegun saat supir di angkot seberang malah marah karena disapa. Tertegun akan sikapnya yang keras dan terkesan seperti orang mengajak duel sesama lelaki. Umurnya memang jauh lebih tua, namun sebenarnya itu bukan alasan untuk duel. Toh supir-supir lain sesama trayek tidak marah saat disapa oleh sesama supir yang jauh lebih muda. Supir angkot seberang malah melontarkan ucapan-ucapan bernada tantangan. Seperti preman yang menantang duel bila dilirik atau dipandang. Saya sendiri menyimpan rasa heran saat melihat orang tersebut melotot pada supir yang angkotnya saya tumpangi ini. Membatin, “Kenapa itu orang?” padahal dari cara berpakaiannya tak memperlihatkan sosok preman. Bahkan dia mengenakan kopiah.

Angkot yang saya tumpangi pun akhirnya melaju lebih dulu meninggalkan angkot yang tadi berpapasan. Ternyata masalahnya tak selesai sampai di situ, bersambung saat angkot yang saya tumpangi berhenti di sebuah tempat di daerah Jalan Pajajaran. Setelah menurunkan penumpang, saya terheran kenapa angkot ini belum juga beranjak jalan, padahal penumpang yang turun pun sudah membayar. Padahal, di pinggir jalan pun tak tampak ada calon penumpang. Baru tersadar saat melihat ke arah belakang mobil. Ada sebuah mobil trayek yang sama berhenti tepat di belakang angkot yang saya tumpangi ini berhenti. Angkot Ciroyom-Lembang yang tadi berpapasan. Lalu, supir angkot yang di belakang itu pun beranjak dari joknya, dan menghampiri supir muda yang angkotnya saya tumpangi ini.

Secara tiba-tiba, dia melabrak si supir muda. Saya dan beberapa penumpang yang tersisa pun terkejut akan tingkah supir yang datang melabrak itu. Dia berbicara dengan nada kasar dan keras sembari memelototi si supir muda. Sampai pada akhirnya si supir muda mengaku salah, dan minta ampun ketakutan. Kami para penumpang dibuat kelu melihat keadaan ini, tak bisa berkomentar, tak sanggup menolong. Terpana dengan situasi.

Setelah marah-marah dan menerima ‘pengakuan’ dari si supir muda, dia kembali menuju angkotnya, lalu pergi begitu saja menyusul angkot ini yang masih berhenti. Meski begitu, keadaan masih terasa menegangkan. Beberapa penumpang ada yang membicarakan perihal sopir yang marah-marah tadi. Begitu juga dengan si supir muda yang ‘narik’ angkot bersama temannya ini. Si supir mengemudi, sedangkan temannya yang jadi kernet menagih ongkos.
Si supir muda dan temannya ini pun berbicara tentang pak supir yang barusan melabrak. Barulah saya mengerti mengapa pak supir tadi tingkahnya demikian bengis. Kernet angkot bercerita sedikit tentang pak supir tadi. Si kernet ini bercerita bahwa kata orang sekitar terminal Lembang, pak supir tadi dulunya adalah preman di terminal. Seorang preman yang dulunya terkenal di wilayah terminal dan pasar. “Pantes aja, bengis begitu.” Gumam saya dalam hati.

Namun, rasanya ada satu hal yang mengganjal dalam hati. Bila dia benar seorang preman, untuk apa dia susah-susah cari uang dengan cara nyupir angkot? Padahal dengan nodong-nodong di seputar terminal dan pasar pun dia bisa dapat uang tanpa susah dan lelah.

***
Beberapa bulan terlewati setelah peristiwa itu. Saya yang sudah terkadang menyempatkan diri untuk mampir ke kampus di jalan Setiabudhi itu. Sebenarnya bukan mampir, tapi ada keperluan ke perpustakaan. Yah, pulangnya bisa sekalian mampir untuk sejenak bersilaturahim dengan beberapa teman yang masih ngampus. Pulangnya, masih seperti biasa, saya menggunakan angkot Ciroyom-Lembang. Walau pulangnya agak sore, jam setengah enam.

Saya naik sebuah angkot yang agak lain. Biasanya angkot Ciroyom-Lembang itu menggunakan mobil jenis colt, namun yang saya tumpangi ini mobil jenis gran max. Rupanya ada peremajaan kendaraan. Tak masalah mobilnya jenis apa, yang penting saya bisa pulang. Tak peduli siapa saja orang yang ada di dalamnya, yang penting muat untuk duduk.

Beberapa saat kemudian, saat penumpangnya agak penuh, angkot pun mulai jalan. Tak ada yang aneh, tak ada yang lain dalam perjalanan pulang kali ini. Sampai tiba-tiba angkot berhenti di depan Griya Setiabudhi. Aneh, tak ada orang yang pencegat angkot. Lalu, siapa yang mau naik?

Tiba-tiba supir angkot menoleh ke pinggir jalan, memperhatikan seorang bapak yang menggendong anak. Seperti yang merasa kenal atau pernah melihat bapak tersebut, pak supir bertanya pada bapak yang tengah menggendong.

“Bade ka mana Pa?” (Mau ke mana, Pak?) Tanya pak supir.
“Bade ka Tasik.” (Mau ke Tasik) jawab bapak itu.
“Ti mana kitu, Pa?” (Dari mana gitu?)” kembali tanya pak supir.
“Ti Subang.” (Dari Subang)
“Euleuh… Tos we Pa. Ngiring sareng abdi dugi Pajajaran. Engke Bapa naek angkot nu ka Cicaheum.” (Waduh… Sudahlah Pak. Ikut saja saya sampai Pajajaran. Nanti Bapak naik angkot yang ke Cicaheum). Ajak pak supir pada bapak yang di pinggir jalan itu.

Akhirnya sang bapak melepas anaknya dari gendongan di punggung, lalu mengajak si kecil untuk naik angkot. Seperti melepas lelah yang teramat sangat, bapak itu menghela nafasnya cukup panjang. Tak punya uang untuk ongkos, begitu katanya. Kemudian dia memilih untuk berjalan dari Subang menuju Tasik. Dari raut wajahnya, terlalu tampak bahwa dia amat kelelahan. Dapatkah dibayangkan, bagaimana rasanya berjalan dari Subang ke Setiabudhi dengan menggendong seorang anak?

Membayangkan jauhnya perjalanan sang bapak, kami para penumpang merasa iba. Begitu pula dengan pak supir yang rasanya pernah saya kenal. Karena merasa peduli, di sebuah perempatan, pak supir membeli segelas teh kemasan untuk bapak yang kelelahan itu. “Dileueut Pa!” (Diminum Pa!) kata pak supir sembari memberikan minum pada sang bapak. Begitu juga penumpang. Ada beberapa penumpang yang memberikan lembar-lembar uang untuk ongkos pulang bapak itu. Bahkan ada yang memberikan 2 dus nasi bungkus. “Makasih, Bu! Makasih, Pak!” begitulah jawab bapak.

Akhirnya, di Pajajaran, angkot berhenti. Bapak bersama anaknya pun turun untuk sambung angkot yang menuju Cicaheum. Duh, miris sekali apa yang dialami oleh bapak itu. Beruntung ada seorang supir angkot yang peka dengan keadaan sekitar, dan peduli dengan nasib bapak tadi. Syukur lah ada orang yang mau berbaik hati seperti supir angkot ini. Ternyata di dunia ini, masih ada orang sebaik pak supir yang satu ini. Semoga Allah membalas kebaikannya.

“Duh, kasihan ya Pak!” kata seorang ibu yang duduknya persis di belakang pak supir.
“Ya, begitulah. Kita mah beramal aja lah.” jawab pak supir.
“Pak Haji tahu dari mana dia nggak bohong?”
“Ya, kita mah berusaha aja lah. Berbaik sangka.”
“Iya lah, Pak. Betul.”

Begitulah kalimat demi kalimat dengan lembut mengalir dari mulut pak supir meladeni obrolan dari salah seorang penumpang. Begitulah sosok lelaki berpeci hitam yang dipanggil “Pak Haji” oleh ibu penumpang. Sosok yang baru saya saja ingat dia siapa. Sosok yang pernah saya temui beberapa bulan silam pada sebuah peristiwa. Dialah pak supir mantan preman terminal.

Rupanya sosok dia yang saya temui beberapa bulan sebelumnya adalah sosoknya yang baru memulai taubat. Baru taubat saja sedemikian beringasnya, bagaimana dulu sebelum taubat ya? Benar-benar tak terbayang.

Sosoknya yang dulu bengis, kini telah menjadi lembut dan ramah. Beliau yang dulu ditakuti karena tingkah zhalimnya, kini telah menjadi sosok yang dihormati karena kebaikannya. Bahkan seorang penumpang yang asing pun sampai menyapanya dengan sebutan terhormat, “Pak Haji”. Begitulah hijrahnya seorang preman terminal. Seperti kata pepatah, lebih baik jadi mantan bangsat daripada jadi mantan ustadz. Entah, kisah hidup apa yang bisa membuatnya berubah sedemikian rupa hingga sebaik ini? Maha besar Allah yang memberikan berbagai jalan hidayah bagi segala makhluk-Nya.

Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah.” (Q.S. al-Baqarah 138).

Mengenang peristiwa 2010 silam.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/04/19742/hijrahnya-seorang-preman-terminal/

About these ads

Tag:,

Silahkan Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: