Bila Giliran itu Tiba


oleh Umi Shandi

payung

Riiing, riiing suara telepon dirumah kami berbunyi nyaring menjelang tengah malam. Telepon dari sahabat kami yang langsung teridentifikasi begitu bel berdering. Ada apa gerangan ya, batinku dalam hati karena aku yakin biasanya pada jam-jam seperti ini mereka sudah berangkat tidur. Saya hafal kebiasaan mereka yang suka tidur lebih cepat dan gemar menghidupkan sepertiga malamnya, serta bangun pagi.

Kuangkat telepon dan kuucapkan salam. Saya menerima salam balasan yang disampaikan dengan suara yang bergetar hebat seperti menahan sesuatu beban yang sangat berat. Tiba-tiba saya merasakan bahwa ada yang tidak beres dengan sahabat saya; dan saya memilih menunggu sampai ia berhasil menguasai perasaan dan emosinya. Setelah terdiam beberapa saat lamanya, sahabat saya mulai berbicara meskipun terbata-bata.
“Sister,…tolong saya….” Suaranya melemah dan terhenti dalam sunyi.
“Ada apa?” Tanyaku berusaha menyembunyikan perasaanku yang galau dan bergolak menahan rasa ingin tahu.
“Ayah saya sister…, dia…dia… baru masuk rumah sakit hari ini dan baru diketahui kalau ternyata dia mengidap kanker stadium akhir…”suaranya tercekat dan berhenti begitu saja.

Saya kaget sekali dan berusaha menguasai diri. Setelah terdiam beberapa saat, saya mencoba berbicara “Sabar ya, ini ujian dari Allah…”
“Sister, saya ingin sekali membimbing ayah saya; supaya dia bisa masuk Islam…” suaranya terhenti dan kurasakan ada keprihatinan dan kekuatiran yang mendalam dari nada bicaranya.
Ada jarak senyap yang panjang, lalu dia berujar lagi, “Sister, … (senyap) tolong bantu saya dengan doa ya?” suaranya memohon penuh iba dan melemah seolah mencari kekuatan penyangga.
Kurasakan pandanganku mulai kabur oleh air mata yang terus mengalir diam-diam tanpa kusadari. Selebihnya aku lebih banyak diam dan mendengarkan sahabatku bertutur tentang ayahnya sampai telepon ditutup.

***
Beberapa hari kemudian, sahabat saya kembali menelepon. Dari salam pembukanya, aku bisa merasakan kalau kali ini sahabatku terdengar lebih tegar. Setelah saling menyakan kabar masing-masing, sahabatku menarik nafas dalam-dalam dan hening kembali tercipta begitu saja.

Setelah beberapa saat lamanya, akhirnya aku tidak tahan untuk tidak menanyakan kabar ayahandanya. Dengan hati-hati aku bertanya:
“Bagaimana keadaan ayah?” senyap.
“Sister, sepertinya tidak ada harapan untuk ayah saya…” kudengar dia menarik nafas dalam-dalam; kemudian berujar lagi “Ternyata hidayah itu sesuatu yang tidak bisa dipaksakan ya…saya merasa kesulitan untuk mencoba membuka hati ayah saya sendiri…?” suaranya serak dan tertahan seperti meanggung kesedihan.

Saya tidak tahu harus berkata apa, akhirnya dengan menguatkan diri dan dengan sangat berhati-hati saya berkata,
“Yang penting berusaha sajalah, jangan pernah putus asa. Perkara hasil, itu terserah Allah dan yakinlah bahwa Allah pasti akan memberikan yang terbaik buat kita semua, InshaAllah”. Sebuah ungkapan penghibur yang sangat biasa dan kuyakin sahabatkupun sebenarnya sudah sering mendengarnya.
“Iya, ya?!” katanya mencoba menentramkan diri.
“Maafkan saya karena hanya bisa membantu dengan doa saja…”, sambungku.
“Tak apa, jangan lupa doakan kami terus ya Sis”, katanya, sebelum akhirnya telepon ditutup dengan salam.

***

Setelah percakapan ditelepon itu, saya kembali merenungkan apa yang sedang dialami oleh sahabat saya saat ini. Sesuatu yang pernah kami perbincangkan sebelumnya. Kami bahkan sempat membahas tentang apa yang sebaiknya kami lakukan saat giliran itu datang menjemput. Ya, giliran untuk berpisah dengan orang tua yang kita cintai dan hormati. Orang tua yang selama ini telah banyak berjasa dalam mendidik dan membesarkan kita.

Sebuah episode dalam kehidupan yang pasti dan kita yakini datangnya, namun tetap saja tidak semudah seperti yang kita bayangkan sebelumnya saat kita mengalaminya. Hal itu menjadi terasa semakin tidak mudah manakala orang tua yang kita cintai dan hormati ternyata berbeda akidah dan keyakinan dengan kita. Perpisahan dalam kondisi beda keyakinan tersebut pastinya akan menjadi salah satu ujian terberat karena ketiadaan harapan untuk bertemu kembali dengan mereka suatu saat di akhirat kelak.

***

Tiba-tiba saja saya kembali teringat permintaan ibu mertua yang sudah diajukan kepada saya entah berapa kali; dari cara yang halus dan tersamar, sampai terang-terangan. Beliau dengan sangat memintaku untuk mengurusi pemakaman dan merawat tempat pemakamannya bila beliau telah tiada. Sebuah permintaan yang sulit kupenuhi karena pasti akan banyak sekali pernak-pernik yang tidak sesuai dengan akidah dan keyakinan saya.

Saya selalu menolak beliau baik secara halus maupun langsung tapi beliau sepertinya tidak pernah bosan untuk meminta saya. Puncaknya terjadi saat kami liburan di Bali tahun lalu. Beliau kembali mengajukan permintaan tersebut saat kami hanya berdua ditemani kedua anak-anakku yang masih kecil. Lalu dengan sangat hati-hati aku berucap:
“Ibu, kenapa sih Ibu tidak meminta adik ipar saja yang sudah pasti mengetahui semua seluk beluk pemakaman maupun upacara sesuai dengan keyakinan Ibu?”
Ibu mertua tampak murung. Beliau hanya diam saja dengan pandangan yang menerawang sangat jauh.

Saya merasa sangat bersalah tapi tidak punya pilihan lain. Saya juga tidak mau berbohong kepada beliau. Lalu dengan hati-hati kembali beliau berujar bahwa sebenarnya beliau tidak masalah kalaupun saya tidak mengurusnya sesuai dengan prosesi yang sebenarnya. Cukup sekadarnya saja pokoknya yang penting saya menyatakan kesediaannya agar beliau bisa melimpahkan semua peninggalannya pada kami. Sungguh saya merasa sangat terharu dengan permintaan beliau tapi sekali lagi saya minta maaf karena saya takut bermain-main dengan masalah yang bisa membahayakan akidah saya.

Akhirnya, entah untuk yang keberapa kalinya, dengan sangat halus saya kembali berujar bahwa saya tidak memikirkan masalah peninggalan beliau, cukuplah bagi kami limpahan kasih sayang beliau selama ini. Kami tidak berharap lebih. Saya bahkan berharap saya bisa membahagiakan beliau semampu saya sepanjang tidak berseberangan dengan akidah saya. Yang terlihat oleh saya kemudian adalah wajah beliau yang menyiratkan rasa kecewa yang mendalam meskipun beliau berusaha untuk menutupinya.

Sejak saat itu beliau tidak atau belum pernah mengulang permohonannya lagi. Bila sudah demikian, rasanya apa yang saat ini dialami oleh sahabat saya menjadi semakin nyata adanya. Kami pun pasti sudah ada didalam daftar tunggu itu. Ya Allah, bila giliran untuk berpisah itu tiba, semoga kedua mertuaku telah mendapat hidayah dari-Mu yang tak ternilai itu, InshaAllah, amin.

Fukuoka, Awal Musim Panas 2009.
(oase iman eramuslim.com)

About these ads

7 responses to “Bila Giliran itu Tiba”

  1. icha says :

    seeeemangaaat ya mbakk . :)

  2. Chamelia says :

    Manusia mampu berencana namun hasil akhir tetap pada Allah swt.

  3. Pak De Guh says :

    Makin kuat iman seseorang semakin berat juga ujiannya. Andai Gus Dur masih ada, dan konsultasi kepada beliau, maka beliau akan mejawab: Gitu aja kok repot.

  4. Hernadi says :

    Semoga kita mengakhiri hayat ini dengan khusnul khotimah

  5. han says :

    yang diharapkan semua umat muslim adalah kembali kepada ALLAH dengan husnul khatimah

  6. Rental Komputer Terbaik says :

    semoga sudah saatnya kita tiba dalam uswatun hasanah

Silahkan Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.